Bersedekah Menuju Kemuliaan
Tuesday, May 03, 2011 | Author:
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I

Sejarah perjuangan Rasulullah Muhammad SAW dalam mengembangkan misi dakwah Islam senantiasa menekankan kepada para sahabatnya akan pentingnya bersedekah, khususnya dengan harta, disamping pengamalan ibadah lainnya.

Para Sahabat Nabi yang termasuk aghniya memang jumlahnya tidak banyak, tetapi kerena mereka sadar dan yakin akan adanya balasan yang berlimpah, maka ketika ada anjuran bersedakah mereka melakukannya secara maksimal. Para sahabat itu diantaranya adalah Abu Bakar Ash-Shidiq, Ustman Bin Affan, Amru Bin Ash, Abdurrochman Bin Auf, Abdullah Bin Abbas putra Abbas Bin Abdul Mutholib Bin Hisyam. Mereka adalah para dermawan yang tidak ada hentinya memberikan dukungan dana untuk perjuangan. Lebih-lebih melihat kemiskinan dan ketertindasan kaum muslim saat itu sehingga para sahabat itu merasa berdosa manakala hidup dengan bergelimang harta sedang saudaranya sendiri menderita.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, bersabda: Dari Abi Kabsah al-Anmariy ra. sesungguhnya dia mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Aku bersumpah atas tiga perkara, akan aku sampaikan kepada kalian satu hadis, dan hendaklah kalian menjaganya baik-baik. Harta yang di keluarkan untuk sedekah pasti tidak akan berkurang, tidaklah seorang hamba yang teraniaya kemudian ia bersabar melainkan Allah Swt. akan menambahkan kemuliaan kepadanya dan tidaklah seorang hamba yang membuka pintu meminta-minta melainkan Allah swt akan membuka pintu ke fakiran kepadanya. (HR. Tirmidzi).

Menurut Al-Samarqandi, seorang ulama ahli tafsir dan fiqih yang wafat pada 375 H berderma itu mendatangkan 10 kebaikan. Lima diperolehnya di dunia dan lima diperolehnya di akhirat. Lima kebaikan di dunia meliputi :1) Membersihkan harta kekayaan, sebagaimana Sabda Nabi Saw.: “Ingatlah bahwa jual beli selalu disertai dengan dusta dan sumpah, karena itu bersihkanlah dengan berderma”. 2) Membersihkan diri dari dosa, 3) Menolak balak, penyakit, 4) Menyenangkan hati orang miskin, 5) Menjadikan berkah dan luas rejeki.

Adapun lima kebaikan di akhirat meliputi : 1) Berderma akan menjadi payung atau perisai baginya, 2) Meringankan hisab amalnya, 3) Memberatkan amal timbangan kebaikan, 4) Memudahkan menyeberang di atas jembatan yang terletak di atas api neraka, 5) Bertambah derajatnya di syurga.

Kesadaran bersedekah merupakan prestasi ibadah yang patut dihargai, karena mampu melepaskan ego diri sendiri untuk kepentingan orang lain. Hal ini tidak mudah dilakukan seseorang karena kekayaan yang telah didapatnya dengan bersusah payah penuh pengorbanan namun mampu diberikan kepada orang lain yang tidak ikut merasakan jerih payah selama dirinya bergulat dengan usahanya. Sebenarnya bersedekah itu tidak harus menunggu kaya dulu. Jika ternyata tidak jadi kaya maka bersedakah tidak terlaksana.

Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita tetap berkomitmen bahwa dalam kondisi apapun bersedekah tetap menjadi bagian hidup kita. Ketika kita mengorbankan harta yang kita cintai itu untuk perjuangan di jalan Allah Swt berarti kita telah mengubur rasa cinta harta demi cinta kepada Allah Swt. Inilah sesungguhnya cinta sejati yang penuh dengan nilai kemuliaan, jauh dari perilaku kehinaan, karena banyak orang berharta tetapi salah langkah sehingga kehinaanlah yang didapatinya.

Ketika seseorang sudah merasakan nikmatnya cinta kepada Allah Swt. maka perlahan namun pasti dia akan merasakan kebahagian sejati. Harta tidak akan membawa dirinya menderita, tetapi dengan semakin banyak berderma maka semakin mulialah hidupnya. Itulah suatu keberuntungan yang sebenarnya, sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an; “Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung” (al-Hasyr [59] : 9).

Bersedakah dalam ajaran agama tidak mengenal situasi dan kondisi, baik keadaan sempit maupun lapang, kaya atau miskin, susah maupun senang, sedih maupun bahagia, sempat atau tidak sempat. Bersedakah merupakan sarana penuh kemuliaan untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Bersedekah itu berkurban untuk menolong orang lain, tetapi sejatinya bersedekah itu untuk meraih kemuliaan diri, karena segala bentuk kekikiran itu merupakan bahaya yang senantiasa menerkam sehingga menjadikan diri kita hina dan sengsara.

Bersegeralah bersedekah secara maksimal dan penuh keikhlasan disitulah kemuliaan terwujudkan. Berbahagialah mereka yang aktif bersedekah berarti aktif memperbaiki diri menjadi lebih berarti, enggan bersedakah sejatinya dia masih merasa miskin dan serba kekurangan sehingga terus terhimpit permasalahan kehidupan, dengan bersedekah kita mampu menyadarkan diri dengan bersyukur atas nikmat Allah yang telah dianugerahkan sehingga Allah SWT akan menambahkan nikmat itu kepada kita.
This entry was posted on Tuesday, May 03, 2011 and is filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: