Muhammadiyah: Gesekan Indah Biola
Friday, March 04, 2011 | Author:
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I.

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
(147) Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
[QS. al-Baqarah (2): 147]

Dinamika dakwah Islam dalam persyarikatan Muhammadiyah beserta seluruh organisasi otonomnya sesungguhnya merupakan implermerntasi dari kekuatan aqidah tauhid yang tertanam kuat untuk mendeklarasikan prinsip kebenaran dari AllahSWT.

Kebenaran ini sebagai upaya menjadikan kehidupan manusia lebih bermakna dan berdaya guna untuk secara aktif dan produktif dalam beramal soleh, karena ternyata masih sering kita jumpai berbagai model dinamika kehidupan yang justru mengantarkan pada kehinaan, terbelenggu kesesatan, terobsesi dengan dendam dan permusuhan serta penindasan.

Kebenaran yang seharusnya ditegakkan untuk kemaslahatan, telah terkubur oleh nafsu keserakahan, kebenaran dianggap kuno dan usang sedang kemaksiatan dijadikan trend kehidupan. Situasi seperti ini sering menimbulkan gesekan dan konflik untuk berbagai kepentingan, sehingga suasana kehidupan tidak kondusif, mencekam dan menakutkan, keharmonisan telah sirna, yang ada hanyalah permusuhan dan kecurigaan, rasa saling menghormati dan menghargai telah mati, yang ada hanyalah kebencian sejati.

Kehidupan seperti ini tidak lagi mendasarkan pada kebenaran tetapi pada kebodohan akibat sempitnya wawasan dan kerdilnya kecerdasan, serta tertutupnya kejernihan nurahi. Ketidakmampuan menjadikan kebenaran sebagai pilihan sekaligus penuntun kehidupan, sehingga berdampak pada maraknya berbagai aksi aksi keburukan, kebrutalan, kekejaman dan kerendahan sebagaimana firman-Nya :

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَالَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هٰؤُلَاءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَمَا هُم بِمُعْجِزِينَ
Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.
[QS. az-Zumar (39): 51]

Apapun fenomena kehidupan yang ada disekitar kita, hendaknya kita bisa berperan secara maksimal dalam memberikan solusi perbaikan dan keunggulan kehidupan sebagai wujud amal soleh serta peran amar ma’ruf nahi munkar.

Melalui ruang inilah dakwah Muhammadiyah semakin terbuka lebar, lebih-lebih ketika menghadapi problematika kehidupan yang semakin sarat dengan segala sifat kerendahan (kebohongan, kerendahan moral, dan sejenisnya), sehingga terpanggil untuk menata meski sarat dengan berbagai bentuk perlawanan tidak mengurangi sedikitpun langkah perjuangannya dalam menegakkan kebenaran.

Metode dakwah Muhammadiyah sebagaimana tertayang dalam film Sang Pencerah, dimana KH.Achmad Dahlan begitu piawai mengesekkan biola sehingga menghasilkan suasana keindahan ajaran Islam berupa : keotentikan, kejernihan, menyadarkan, menggerakkan, memberdayakan serta ikhlas berjuang.

Keindahan lantunan gesekan biola ini tidak bisa dilepaskan dari kualitas pribadi yang memainkan, sehingga dari karya indah inilah bermunculan kader-kader persyarikatan yang tangguh untuk bisa memainkan simponi keindahan dalam dakwah Islam dan mampu melahirkan karya-karya monumental berupa amal usahanya.

Dinamika perjalanan dakwah dalam memainkan dan menghasilkan karya indah dari gesekan biola ini bukan berarti tanpa masalah, justru gesekan itu bisa memanas karena terbawanya berbagai kepentingan yang beragam, namun semua kader persyarikatan sangat paham bahwa di Muhammadiyah adalah lahan dakwah untuk beramal soleh, sehingga sepanas apapun akibat gesekan yang ada tidak memutuskan tali persaudaraan justru semakin menyadarkan bahwa permasalahan yang ada itu merupakan tahapan menuju kesempurnaan amal soleh, sehingga dalam memberikan solusi akan dilakukan secara bijak dan cerdas.

Kesadaran seperti inilah yang harus terus dibangun, sehingga ketika ada problematika semakin menambah daya dukung untuk berkomitmen terhadap kebijakan persyarikatan Muhammadiyah yang selalu memperjuangkan kebenaran.

Berakhirnya acara Musyawarah Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Surabaya, bertema : “ Penguatan Gerakan Dakwah dan Tajdid Untuk Pencerahan Peradaban” yang digelar sejak awal Januari 2011 hingga 30 Januari 2011 dengan berbagai acara penyerta yang mampu menjadi daya dorong untuk tetap bersinergi dengan berbagai potensi persyarikatan yang ada sehingga terpilihlah Pimpinan pada periode 2010 – 2015 dengan berbagai program yang mencerahkan, memberdayakan serta berkeadilan.

Dari kepemimpinan inilah diharapkan mampu memainkan gesekan dawai biola yang indah yang tertantang dengan problematika kehidupan. Lantunan indahnya gesekan biola dakwah Muhammadiyah dalam menterjemahkan berbagai program yang ada sangatlah dinantikan untuk upaya percepatan perbaikan kehidupan, sehingga kebenaran terus ditegakkan tanpa ada keraguan sedikitpun.

Sang Pencerah dalam barisan kepemimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Surabaya memiliki tanggung jawab yang besar untuk bersinergi dan koordinasi serta mengimplementasikan kebijakannya. Indahnya gesekan biola akan terasa indah manakala dijalankan dengan penuh amanah hingga menghasilkan karya amal soleh yang nyata.
This entry was posted on Friday, March 04, 2011 and is filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

1 komentar:

On March 31, 2011 at 12:10 AM , ibnusabil.blogspot.com said...

Kondisi indonesia sekarang sangat memprihatinkan..pencurian merajalela,anak2 muda sudah jauh dari norma agama,terlbh penganguran merajalela.Muga muhammadiyah mampu memberi solusi yg riil..Terlebih krisis keuangan yang melanda dunia perlu dihadapi dengan membangun kebersamaan umat Islam. Selain itu,muhammadiyah harus menjadi power dan benar-benar memperhatikan nasib rakyat kecil dan mengeluarkan mereka dari berbagai kesulitan hidup yang diakibatkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan, dan semakin kerasnya perjuangan hidup sehari-hari.

”Karena itu, para elite dan kelompok masyarakat (muhammadiyah)yang berkecukupan diimbau keteladanannya untuk mewujudkan pola hidup sederhana dan mau berbagi serta memerhatikan nasib kelompok masyarakat yang berkekurangan