MUHAMMADIYAH UNTUK SEMUA
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Pada bulan November ini warga Persyarikatan Muhammadiyah memperingati kelahirannya secara berurutan, berdasarkan kalender Hijriyah yaitu pada hari jum’at 8 Dzulhijjah 1432 H yang bertepatan dengan tanggal 4 Novermber 2011, usia Muhammadiyah sudah 102 tahun, dan berdasarkan kalender Miladiyah pada 18 November 2011, Muhammadiyah usianya memasuki 99 tahun, karena KH. Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 H yang bertepatan 18 November 1912. Usia gerakan Muhammadiyah sudah memasuki tahapan pematangan untuk terus dikembangkan, bukan karena kaya pengalaman karena kehadirannya sebelum kemerdekaan Indoensia, tetapi lebih dari itu adanya konsistensi perjuangan yang penuh ke ikhlasan dari para pendiri dan penerusnya dalam memberikan yang terbaiknya bagi kemaslahatan. Meski diawal perjuangannya, gerakan dakwah Muhammadiyah mendapatkan cemoohan hingga dikafirkan, dijauhi dan dirintangi hingga diputuskan tali persaudaraan, tidak menyurutkan dalam melakukan dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar dengan penuh kesantunan dan keteladan serta kepeloporan. Sang Surya telah bersinar, syahadat dua melingkar, warna yang hijau berseri membuatku rela hati, itulah sebagian syair lagu “ Sang Surya”, ciptaan Djarnawi Hadikusumo yang senantiasa dilantunkan pada berbagai acara Muhammadiyah, yang menunjukkan untuk senantiasa konsis seperti Matahari yang sinarnya mampu menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk-Nya tanpa membedakan keragaman yang ada, akibat adanya kekuatan aqidah (syahadat) sebagai daya dorong pencerahan dengan penuh keramahan dan ketulusan.
Dakwah Untuk Semua
Sejak awal berdirinya Muhammadiyah senantiasa melakukan kepedulian kepada segenap masyarakat tanpa kecuali, lebih-lebih suasana bangsa yang masih terjajah membuat kehidupan masyarakat jauh dari kesejahteraan, dimana kemiskinan benar-benar menyekik penuh penderitaan, kebodohan membuat masyarakat terus dipinggirkan tanpa diberikan keadilan, pemahaman dan pengamalan agama Islam yang sudah tidak murni lagi karena tercampur dengan ajaran lainnya sehingga kondisi spiritual keagamaan membutuhkan pemurnian, dan kondisi social membutuhkan percepatan perbaikan untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Gerakan Al Ma’un yang dipelopori KH. Ahmad Dahlan beserta para muridnya mampu menggegerkan kota Yogja, karena adanya penyantunan kepada masyarakat yang membutuhkan, yang tidak bisa makan diberikan makanan, pakaian yang kotor dan kehidupan yang kumuh dibersihak dan dimandikan dengan diberikan pakaian yang terbaik, yang menderita sakit dibangunkan rumah sakit untuk merawat dan menyehatkan, anak-anak yatim dan kurang mampu yang terlantar dibina dip anti asuhan, terbatasnya akses pendidikan maka didirikanlah sekolahan dan sebagainya. Dakwah Muhammadiyah saat itu benar-benar bersifat strategis dalam memberikan layanan pada masyarakat, dakwah yang tidak sebatas wacana dan berdebatan saja tetapi diwujudkan dalam karya monumental berupa amal soleh.
Gerakan kepedulian ini tidak lalu menjadikan diri elitis, yang serba minta dilayani, tetapi, justru kepeduliannya semakin dekat kepada masyarakat untuk diberdayakan hingga mendapatkan kesejahteraa, luas pandangan dan tanggap memberikan bantuan. Sebagaimana transkrip pidato KH. Ahmad Dahlan, yang dimuat dalam Almanak 1923:….Marilah para pemimpin untuk segera berkumpul membicarakan kebenaran (haq) tanpa memandang dan memilih bangsa”, dari pidato inilah sepertinya terus terinspirasi untuk selalu memberikan yang terbaik dan benar dengan penuh ketulusan tanpa ada diskriminasi sedikitpun. Pemahaman ini semakin menyadarkan kepada kita bahwa ternyata masih kuatnya ikatan-ikatan yang membatasi ruang gerak kita, dimana adanya kebijakan yang lebih menguntungkan kelompok dan kroninya semata dan tidak peduli lagi pada yang lainnya, lebih-lebih yang berseberangan dalam kancah perpolitikan akan terus dilawan karena dianggap menggangu kepentingan yang selama ini sudah dibangunkannya. Bangsa ini sepertinya akan jauh dari rasa keadilan dan kesejahteraan manakala masih kuatnya pemahaman yang sempit dan kerdil wawasan, bantuan akan diberikan jika mau bergabung dalam lingkaran dan kroni pendukunya, inilah bentuk kemunduran cara berpikir serta sangat memalukan, karena kepeduliaannya penuh kepentingan jangka pendek dan direkayasa untuk dilangengkan. KH. Ahmad Dahlan adalah tokoh yang memiliki kemajuan dalam berpikir lebih-lebih dalam memberikan bantuan kemanusiaan, tidak akan ditanya terlebih dahulu apa agamanya, keturunan siapa, dan apa pandangan politiknya, sehingga hal inilah yang mengakibatkan Muhammadiyah bisa diterima oleh semua elemen masyarakat, karena komitmen menguatkan persaudaraan.
Milad Penguat Persaudaraan
Kita benar-benar prihatin ketika rasa persaudaraan dan kerukunan sebagai pilat terwujudnya persatuan dan ketahanan bangsa mulai melemah, dimana persoalan idiologi bangsa mulai ada yang mempersoalkan lagi, padahal sudah dirumuskan bersama oleh para pendiri bangsa bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang beraneka suku bangsa dan agama dimana dengan idiologi Pancasila bisa menjadi perekat keragaman yang ada. Pemahaman keyakinan yang ada janganlah dibenturkan dengan idiologi bangsa, disamping karena sudah sesuai serta secara historis kebhinekaan itu sudah tumbuh dan bisa hidup secara berdampingan pada dinamika kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan menghargai atas perbedaan yang ada. Kesadaran ini khususnya bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah sudah dinyatakan dalam Muqoddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang disusun oleh Ki Bagus Hadi Kusumo bersama pimpinan lainnya sejak tahun 1945 dan disahkan pada tahun 1951 sebagai upaya merekonstruksikan kembali pokok-pokok pikiran KH.Ahmad Dahlan, sebagai arah kebijakan Persyarikatan.
Dalam Muqoddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah itu ada 7 pokok-pokok pikiran sebagai prinsip perjuangan, yaitu : bahwa hidup manusia berdasarkan taukhid; bahwa hidup manusia itu bermasyarakat; hanya hukum Allah yang sebenar-benarnya satu-satunya yang dapat dijadikan sendi untuk membentuk pribadi yang utama, dan mengatur ketertiban hidup bersama (bermasyarakat) dalam menuju hidup bahagia yang hakiki didunia dan diakhirat; berjuang menegakkan dan menjunjung tingg Agama Islam; mengikuti jejak (ittiba’) perjuangan para Nabi terutama perjuangan Nabi Muhammad SAW; perjuangan untuk mewujudkan pikiran-pikiran dengan cara berorganisasi; seluruh perjuangan mengarah ke satu tujuan Muhammadiyah, yakni terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pokok-pokok pikiran ini mendorong Muhammadiyah beserta seluruh organisasi Otonomnya untuk terus mempererat persaudaraan sebagai implementasi dari nilai-nilai spiritualitas untuk disinergikan dengan berbagai aspek sosial.
Milad Muhammadiyah ke – 102 / ke – 99 Tahun 1432 H / 2011 M mengambil tema, “ Muhammadiyah Membangun Karakter Utama untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa”, disamping sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan terimakasih pada semua komponen bangsa yang telah ikut member dorongan dan dukungan sehingga Muhammadiyah tumbuh mekar di negeri tercinta ini, untuk umat dan bangsa bahkan bagi kehidupan dunia kemanusiaan universal. Tema Milad ini sangat tepat, lebih-lebih kondisi bangsa Indonesia sedang menghadapi banyak masalah, dan salah satu akar masalahnya ialah hilangnya karakter yang utama di tubuh bangsa ini, termasuk di kalangan para elite pemimpinnya, untuk lebih focus menangani kondisi real bangsa bukan sekedar kamuflase yang sekedar menyenangkat sesaat. Dalam naskah pidato Milad tersebut dinyatakan, Muhammadiyah juga menyampaikan ajakan dan komitmen moral bahwa dalam membangun bangsa, tidak kalah pentingnya membangun kekuatan karakter atau akhlaq utama di tubuh bangsa ini yang mengedepankan kejujuran, keadilan, kemanusiaan, keterpercayaan, persaudaraan, kemandirian, dan nilai-nilai moral yang dibangun di atas kebenaran dan kebaikan.Masa depan bangsa ini tergantung pada keutamaan akhlaq warga dan para pemimpinnya, disertai sikap jujur dan amanah dalam menunaikan tugas bangsa dan Negara. Bangsa yang berkarakter utama akan mampu mempercepat kemajuan bangsa sehingga meraih kesejahteraannya, menguatkan kedaulatan bangsa sehingga mandiri dan berdaulat.
Momentum Milad Muhammadiyah disambut luar biasa oleh warga Persyarikatan, mulai dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting dengan menggelar berbagai agenda kegiatan yang mencerahkan dan membangun kepedulian untuk peran kemanusiaan dan kebangsaan. Pada beberapa kesempatan Pak Dien menyataka; bahwa Muhammadiyah tidak pernah lelah untuk mendorong umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah agar melembagakan amal saleh yang fungsional dan solutif, sebagai pancaran iman yang sempurna dan untuk merefleksikan ajaran Islam yang memberikan rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil 'alamin). Selamat Milad Muhammadiyah.
Showing posts with label Muhammadiyah. Show all posts
Showing posts with label Muhammadiyah. Show all posts
Bertempat di SD Muhammadiyah 13 Surabaya yang juga berada di Masjid At Taqwa Pemuda jalan Sampurna 68 Surabaya, sejak pukul 09.00 hingga pukul 14.00 acara Musyawarah Cabang Muhammadiyah Pabean Cantian dilaksanakan. Selama Periode 2005 - 2010 PCM Pabean Cantian meski dengan personil Pimpinan yang terbatas tidak menghalangi untuk melaksanakan berbagai aktivitas dakwah Muhammadiyah, hal ini terbukti dari upaya renovasi SD Muhammadiyah 13 dan Masjid Pemuda yang beberapa tahun yang lalu terkesan kumuh, kurang terawat, demikian pula jumlah siswanya sangat minim sekali, namun berkat semangat juang para pimpinan sehingga SD Muhammadiyah 13 sudah memiliki gedung berlantai 3 dan masjid Pemuda yang dulu menjadi pusat perkaderan sekrang terlihat bersih dan penuh aktivitas dakwah untuk pencerahan bagi masyarakat sekitar.
Menurut Ketua Panitia Bpk. Ir. Mulya Hadi, bahwa acara Musyawarah Cabang Muhammadiyah diawali berbagai acara penyerta diantaranya : Jalan sehat, Pengobatan Gratis, Lomba Mewarna TK, Pemutaran Film " Laskar Pelangi " dan " Sang Pencerah" di halaman RW setempat mampu menarik simpati masyarakat terhadap dakwah Muhammadiyah.
Pembukaan Musycab dikawal oleh MC yang handal dengan 3 bahasa (Indonesia, Arab dan Inggris) dari guru-guru SD Muhammadiyah 13. Pembacaan kalam Ilahi oleh Bu Syamsiyah yang pernah menjadi juara Qiroah se Jawa Timur, dan Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Lagu Sang Surya dan lagu Muktamar 1 abad dengan penuh hikmad oleh para siswanya. Serta ditampilkan sang Dai Cilik siswa kelas 4 yang bernama Muhammad Darwis yang memukau peserta karena gaya dan intonasinya begitu meyakinkan, karena memang menjadi juara nomor 1 ditingkat kecamatan dengan mengkaji sekitar : Problem bencana Alam, Problem moral dan pentingnya sholat.
Dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya diwakili Drs. Andi Hariyiadi, M.Pd.I dan Drs. hasan Madjuri, MA untuk mengawal jalannya muscab. Dari 18 calon yang bersedia ternyata 6 orang berhalanganhadir sehingga ditetapkan 12 calon pimpinan untuk dipillih 7 orang sebagai PCM Pabean Cantian Periode 2010 - 2015, dan terpilih Ketua : Bambang Sunan Giri, S.IP, M.Pd.I dengan anggota : KH.M. Ghozi, Ir.Mulya Hadi, Solichin, Yusuf Matondang, Husaib Rizal, As'ad Azis. Disampaikan selamat atas Pimpinan yang baru semoga amanah dalam mengemban tugas Persyarikatan Muhammadiyah, dan disampaikan terimakasih kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah periode 2005 - 2010 yang sukses mengantarkan dakwah di Pabean Cantian, semoga Allah SWT senantiasa meridhoi perjungan kita. Amien.
Selasa 17 Juni 2011, di Masjid Nurul Iman, Wisma Lidah Kulon Lakarsantri, telah berlangsung Musyawarah Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah ke 3 Sambikerep Kota Surabaya. Musyawarah Cabang sebagai permusyawaratan tertinggi di tingkat Cabang, merupakan mementum yang sangat penting untuk evaluasi perjalalan Pimpinan selama periode 2005-2010, sekaligus ajang untuk merumuskan kebijakan baru dan pemilihan pimpinan masa bakti 2010 - 2015.
Meski relatif muda pendiriannya dibanding cabang yang lain di Surabaya, namun memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan dakwah Muhammadiyah di Wilayah Barat Kota Surabaya yang terus tumbuh menjadi kota modern dan metropolis dengan berdirinya pusat-pusat pembelanjaan, perumahan elit dan beragam kemodernan lainnya. Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Sambikerep berusaha semaksimal mungkin untuk mengiringi kota dengan sentuhan dakwah yang sangat dibutuhkan masyarakat metropolis. Berbagai agenda kajian keagamaan yang diselenggarakan baik di Cabang dan Ranting mampu memberikan pencerahan khususnya bagi warga Persyarikatan maupun para simpatisan lainnya, terbukti suksesnya nonton bareng bersama masyarakat film "Sang Pencerah" disalah satu Balai RW setempat, dan masyarakat semakin paham kiprah dakwah Muhammadiyah.
Acara Musyawarah Cabang tersebut dihadiri dan dibuka langsung oleh Drs. Andi Hariyadi,M.Pd.I sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya, yang telah memberikan harapan-harapan besar pada musyawirin guna menyongsong berbagai perubahan serta solusi untuk antisipasi dengan dakwah yang lebih relevan pada masyarakat. Pembahasan sidang komisi (Program kerja, LPJ dan Rekomendasi) sangat menarik dan dinamis dengan analisis yang tajam sebagai bentuk amanah dalam menjalankan roda Persyarikatan. Salah satu butir rekomendasinya diantaranya adalah mengupayakan untuk memperjuangkan keadilan pada warga mengingat sebagian aset tanah desa yang akan diperuntukan pengembangan Citraland, namun harga yang diberikan warga jauh dari nilai yang diharapkan warga dan itu terindikasi adanya ketidak adilan yang merugikan masyarakat sekitar. Rekomendasi lainnya adalah mendorong pemekaran wilayah yaitu pembentukan Cabang Persiapan Muhammadiyah dan Aisyiyah Lakarsantri, yang selama ini bersama dalam kegiatan dengan Sambikerep.
Musyawarah Cabang Muhammadiyah Sambikerep berhasil memilih 9 orang pimpinan dan terpilihlah sebagai ketuanya H. Much.Soleh, dan untuk Aisyiyah Cabang terpilih sebagai ketuanya Dra. Makrifah, keduanya didaulat oleh musyawirin untuk melanjutkan kepemimpinan di Sambikerep. Akhirnya disampaikan selamat berjuang dalam wadah Muhammadiyah dan Aisyiyah khususnya di Wilayah Sambikerep.
Aisyiyah,
Andi Hariyadi,
Masjid Nurul Iman,
Muhammadiyah,
Musyawarah Cabang,
PCA Lakarsantri,
PCA Sambikerep,
PCM Lakarsantri,
PCM Sambikerep,
PDM Surabaya
|
komentar (0)
Ahad, 8 Mei 2011 di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya pada pukul 08.30 telah berlangsung pelantikan Pimpinan Cabang Aisyiyah Bubutan oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surabaya, dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bubutan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya, dan dilanjut tausiyah oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Prof.Dr.Thohir Luth, MA.
Kepada PCA Bubutan dan PCM Bubutan yang telah dilantik disampaikan selamat sekaligus berharap bisa menjalankan amanat Persyarikatan sebagaimana yang diikrarkan bersama bisa diwujudkan, untuk komitmen dan menjadi tauladan utama. Kebersamaan antara Aisyiyah dan Muhammadiyah dalam berdakwah akan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, wadah organisasi inilah sarana berjihad yang sesungguhnya, karena peran-peran sosial yang begitu menantang bisa kita lakukan secara tepat.
Prof.Dr.Thohir Luth. MA dalam tausiyahnya menekankan pentingnya sinergi antara Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk komitmen dalam berdakwah dan tidak menduakannya serta janga ada dusta diantara kita, sebagaimana amanat dari tujuan Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terbentuklah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya membawa konsekuensi:
- Komitmen sebagai Mujahid,
- Menata hati untuk tukus, ikhlas,
- Istiqomah dalam berjuang, dan
- Selalu mengharap Ridho Allah SWT serta terus berdo'a untuk kejayaan umat Islam termasuk Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Pelantikan ini merupakan langkah awal untuk menatap masa depan dalam berdakwah melalui Aisyiyah dan Muhammadiyah, sehingga dakwah ini lebih relevan dalam memberikan pencerahan bagi masyarakat, semoga kita konsisten melakukannya.
