Fadhillah Shalat Malam Untuk Kesehatan
Saturday, July 16, 2011 | Author:
Oleh: Ustadz Andiono Mahdi

Dari Bilal dia berkata Adalah Rasulullah s.a.w. Bersabda : “ Hendaklah kalian kerjakan Shalat malam, maka sesungguhnya itu merupakan kebiasaan orang-orang Shalih sebelum kalian, dan sesungguhnya Shalat malam itu mendekatkan kepada Allah, Mencegah dari berbuat dosa dan menutup kesalahan-kesalahan dan menjauhkan penyakit dari tubuh.”
(HR. At Tirmidzi - Kitab Ad Da’wah - Bab Fi Du’a Nabi s.a.w. - Hadits : 3560).

Penjelasan sanad dan Rawi-rawi hadis:
Hadits ini diriwayatkan dengan sanad seperti tersebut di bawah ini :
Abu I’esa At Tirmidzi --> Ahmad bin Muni’ --> Abu Nadhri --> Bakr bin Khunais --> Muhammad bin Qurasyi --> Rabi’ah bin Yazid --> Abi Idris Al Khaulani --> Bilal bin Rabah r.a.

Muhammad bin Qurasyi atau Muhammad bin Said bin Hasan bin Qais Al Asdi banyak mendapatkan celaan dari ulama Hadits.
Ibnu Ma’in mengatakan Munkarul Hadits. Berkata Imam Ahmad dia memalsukan hadits.
Imam Bukhari menyebutkan haditsnya ditinggalkan. Abu Hatim berkata Kadzab (berdusta).
Imam Ahmad mengatakan Dia meriwayatkan hadits-hadits Palsu.
An Nasa’i dan Daruquthni menyebutnya Matrukul Hadits (haditsnya ditinggalkan).
Berkata Ibnu Hibban “Yadha’ul Hadits” Dia memalsukan Hadits.
Al Hakim mengatakan dia adalah Lemah. (Baca Tahdzibut Tahdzib Juz : 9 Hal. 163 - 164)

Penilaian ulama hadits tersebut diatas menunjukkan bahwa hadits ini adalah Maudhu’ (Palsu). terutama kelemahannya pada kalimat “ Wa Mathradatun Lil Dai Anil Jasad ” (Dan menjauhkan penyakit dari Tubuh).

Didalam hadits Shahih tidak disebutkan kalimat tersebut diatas, seperti pada riwayat dibawah ini :

Artinya : Dari Abu Umamah dari Rasulullah s.a.w. Sesungguhnya Beliau Bersabda : “ Kerjakanlah Shalat Malam, maka sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang Shalih sebelum kamu, dan Ia mendekatkanmu kepada Rabbmu dan penutup kesalahan serta mencegah dari perbuatan Dosa.”
(HR. At Tirmidzi - Kitab Ad Da’wah - Bab Fi Du’a Nabi s.a.w. - Hadits : ....).

Kesimpulan:
Hadits yang menjelaskan Shalat Malam akan menjauhkan penyakit dari tubuh kita adalah Maudhu’ (Palsu).
Memilih Pendidikan Anak
Friday, July 15, 2011 | Author:
Oleh : Drs. H. Achmad Lutfi, M.Pd.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴿١٣﴾
(13)Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
[QS. Luqman (31): 13]

Berdasar ayat tersebut dapat diambil pokok pikiran bahwa orang tua wajib memberikan pendidikan anak-anaknya dengan prioritas menanamkan pendidikan aqidah sehingga dapat membentuk pribadi anak yang sholeh.

Sebentar lagi banyak orang tua akan disibukkan memasukkan putra-putrinya ke sekolah, bagi anak yang telah lulus SD melanjutkan ke SMP, anak yang lulus SMP/M.Ts. melanjutkan ke SMA/SMK/MA, maupun lulusan SMA melanjutkan ke Perguruan Tinggi (PT). Bersamaan itu pula dunia pendidikan banyak disorot oleh public.Orang tua akan mencari sekolah yang dianggap- nya baik.

Mulai pengambilan formulir, memasukan dan melihat hasil pengumuman PSB. Wajah kuyu puluhan bahkan ratusan orang tua calon siswa baru nampak di sekolah/tempat akan digelar pengumuman, apalagi ada pergeseran waktu, menambah rasa cemas.

Gambaran di atas memper-lihatkan betapa orang tua berupaya menyekolahkan putra-putrinya sesuai dengan keinginan. Bahkan ada orang tua berani mengediakan uang setumpuk demi keinginan diterima di sekolah pilihan.

Kriteria sekolah pilihan setiap orang tua dan anak bisa berbeda satu dengan yang lain, namun kesempatan memilih sekolah banyak ditentukan oleh nilai UN (Ujian Nasional) yang diperoleh sebelumnya. Akibatnya banyak ulah atau cara yang dilakukan agar nilai UN tinggi, bahkan adakalanya mengorbankan etika dan kelaziman serta megabaikan tujuan pendidikan.

Kita berharap dan berdoa semoga sekolah pilihan yang dituju dapat menjadikan anak sesuai dengan harapan Allah yang tertuang dalam surat Luqman ayat 14 :

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴿١٤﴾
(14)Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
[QS. Luqman (31): 14]

Untuk menjadikan anak dapat berbuat baik kepada kedua orang tuanya, tentu perlu memilih sekolah yang mengajarkan berbuat baik kepada orang. Mengapa demikian, karena ditengarahi orang tua sering lupa perintah Allah tersebut dan terbawa oleh arus informasi yang tidak semuanya benar dan baik menurut Islam. Orang tua menginginkan putra-putri menjadi pandai, cerdas dan menjadi siswa peringkat tertinggi serta diterima di sekolah atau PT yang “favorit”. Tidak mempertimbangan aqidah, akhlaq, dan budi pekerti anak kelak. Walaupun dalam kurikulum sekolah telah termaktub kompetensi afektif (sikap) namun selama ini masih lebih didominasi aspek kognitif (pengetahuan).

Sulit kita bayangkan bila anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa, masyarakat dan agama hanya diberi bekal aspek kognitif dan mengabaikan aspek afektif serta aqidah. Bisa kita rasakan saat ini, banyak pelaku pemerintahan, legislatif, yuridis yang mempunyai kepintaran tinggi tetapi akhlaq mereka tidak sebanding dengan kepintarannya, sehingga muncul korupsi, suap, pelecahan sex dll.

Kita menginginkan anak-anak kita nanti bila menjadi pengusaha jadilah pengusaha yang baik tidak melakukan penipuan, bila jadi pejabat jadilan pejabat yang baik dan menjadi teladan tidak melakukan kurupsi, bila jadi pedagang tidak mengurangi ukuran/timbangan, bila jadi polisi jadilah polisi yang baik, bila jadi politikus jadilah politikus yang santun, bila menjadi hakim jadilah hakim yang jujur/adil, dan bila jadi guru jadilah guru yang bermoral dll.

Atas uraian di atas maka hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua muslim dalam memilih pendidikan anak:
1. Prioritaskan pendidikan aqidah kepada anak-anak dengan kelembutan, kemesraan dan kasih sayang.
2. Pilih pendidikan/sekolah yang dapat menjadikan anak sholih atau sholihah dan yang dapat dan mau mendoakan orang tuanya.
3. Bila sekolah tempat putra-putri hanya diajarkan pendidikan agama selama 2 jam per minggu, tambahlah pengetahuan agama mereka dengan kursus atau cara lain.
4. Anak adalah aset orang tua dunia dan akhirat, mari kita beri pendidikan sebaik-baiknya agar ke depan dapat bermanfaat bagi anak, orang tua, masyarakat terutama agama.
Ucapan Tahlil 10X Setelah Tasbih, Tahmid dan Takbir
Friday, July 08, 2011 | Author:
Oleh: Ustadz Andiono Mahdi

Artinya : Dari Ibnu Abbas dia berkata : Datang orang-orang Faqir kepada Rasulullah s.a.w., kemudian mereka berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka punya harta untuk membebaskan budak dan bershadaqah. Rasulullah bersabda : Maka apabila kamu shalat maka ucapkan Subhanallah 33x, dan Alhamdulillah 33x dan Allahu Akbar 34x dan La Ilaha Illallah 10 x, maka dengan itu kamu menyamai orang-orang yang mendahului kamu dan tidak akan mendahului kamu orang-orang setelahmu.”
(HR. At Tirmidzi - Kitab Abwabi Shalat - Bab Ma Ja’a Fi Tasbih Fi Adbaari Shalat - Hadits : 410).

Penjelasan sanad dan Rawi-rawi hadis:
Riwayat At Tirmidzi ini punya susunan sanad seperti berikut : Abu I’esa At tirmidzi --> Ishaq bin Ibrahim bin Habib --> Ali bin Hujr Attab bin Basyir --> Khushaif bin Abdurrahman Al Jazari --> Mujahid dan Ikramah --> Ibnu Abbas.

Ulama Hadits menilai Attab bin Basyir dan Khushaif sebagai rawi-rawi yang Dha’if.

1. Attab bin Basyir
Imam An Nasa’i mengatakan Laisa Bil Qawi Fil Hadits (tidak kuat dalam hadits). As Saji menyebutkan haditsnya Munkar. Imam Ahmad berkata hadits-hadits Attab yang diriwayatkan dari Khushaif Munkar. Murrah dan Ibnul Madini menyebutnya “Dha’if”. (Baca Tahdzibut Tahdzib Juz 7 Hal. 83-84, Mizanul I’tidal Juz 3 Hal. 27).

2. Khushaif bin Abdurrahman Al Jazari
Imam Ahmad berkata Laisa Bil Qawi Fil Hadits, Dhaiful Hadits Laisa Bil Hujjah. Abu Hatim mengatakan Khushaif Su’il Hifzhi (Jelek hafalannya). An Nasa’i dan Abu Ahmad Al Hakim menyebutnya Laisa Bil Qawi. Abu Dawud menyebutkan Mudhtharibul Hadits (Haditsnya Goncang). Baca Tahdzibut Tahdzib Juz 3 Hal. 123-124.

Didalam hadits-hadits yang Shahih tidak disebutkan ucapan Tahlil 10x, setelah Tasbih 33x, Tahmid 33x dan Takbir 33x. Seperti pada riwayat Muslim dibawah ini :


Artinya : Dari Abi Hurairah dari Rasulullah s.a.w. Beliau bersabda : Barangsiapa bertasbih selesai Shalat Fardhu 33x dan bertahmid 33x dan bertakbir 33x, maka dengan demikian menjadi 99x dan Beliau bersabda : Menjadi sempurna 100 dengan kalimat “Laa Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa Huwa ala kulli Syai’in Qadiir. Diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih dilaut.”
(HR. Muslim - Kitab Al Masajid - Bab Al Istihab Dzikir Ba’da Shalat - Hadits ke 146).

Kesimpulan:
Hadits tentang “Laa Ilaha Illallah” 10x setelah tasbih 33x, Tahmid 33x dan takbir 33x sesuai Shalat adalah Dha’if Laisa Bil Hujjah.